Jl.Jenderal A Yani (By Pass) Rawamangun, Jakarta Timur - 13230
1500-225ID|EN

K9 Unit

Sejarah Unit Anjing Pelacak DJBC

Berawal dari tahun 1978, DJBC mengirimkan 1 (satu) orang pejabat Bea dan Cukai Indonesia untuk mengikuti pengenalan akan program anjing pelacak di Front Royal, Washington-USA. Setelah itu dikirim kembali 4 orang pejabat Bea dan Cukai untuk mengikuti pendidikan mengenai narkotika di USA pada bulan Januari-Februari 1979. Setelah beberapa kesempatan pendidikan mengenai narkotika, akhirnya Bea Cukai Indonesia mendapat kesempatan untuk meminjam 2 ekor Anjing Pelacak Narkotika (APN)dari Bea Cukai Malaysia dan 2 ekor APN dari Bea Cukai Singapura untuk dipakai pada program pencegahan masuknya narkotika ke daerah pabean Indonesia.Sejak Oktober 1981, pelatihan terhadap 2 orang pegawai Bea dan Cukai  dilaksanakan di Front Royal Virginia dengan disponsori oleh United State Customs Service. Setelah mengikuti pelatihan, kedua orang pegawai kembali ke Indonesia dengan membawa serta 2 ekor Labrador Retriever yang sudah terlatih yang merupakan sumbangan dari US Customs Service untuk Bea Cukai Indonesia.

Pada tahun yang sama (1981) Bea Cukai Australia juga menyumbangkan 6 ekor APN jenis German Sheppard Dogs yang digunakan untuk pelatihan termasuk pelatih yang sudah berpengalaman ke Indonesia. Pelatih tersebut melatih 6 orang handler dan 6 ekor anjing tersebut di Indonesia. Setelah yakin dengan sikap yang akan diambil, maka pada bulan Juni 1981 itu juga dikirimkanlah  2 orang pegawai untuk belajar pada Drug Detector Dog Training di US Customs – Front Royal USA dan kembali dengan membawa 2 ekor anjing pelacak narkotika sebagai bantuan hasil dari pelatihan tersebut.

Pada bulan Juli 1981, mulailah dilakukan pelatihan APN Indonesia yang pertama dengan bantuan APN dari Australian Customs bersama 2 orang pelatih APN. Pada Tahun 1986, Direktorat Jenderal mendapatkan 8 ekor APN lagi setelah dilatih menjadi APN bersama dengan Kepolisian. Selanjutnya pada bulan Maret 1987, diresmikan penggunaan kennel beserta dengan fasilitas pelatihan yang mutakhir yang berdekatan lokasinya dengan Kantor Pusat DJBC. Satu bulan berikutnya di tahun yang sama, DJBC mengirimkan 2 orang dog handler ke Australia untuk dilatih menjadi Drug Detector Dog Instructor Program di Canberra Australia.

Pada September 1987, mendapat bantuan dari Australian Customs Service berupa pengiriman pelatih yang berpengalaman ke Indonesia dan merancangkan pelatihan Drug Detector Dog training yang menghasilkan 8 ekor APN. Pada July 1988, Indonesia mengirimkan 2 orang Dog Handler untuk menghadiri training di Canberra-Australia dan pada akhir training mereka kembali ke Indonesia dengan membawa 2 ekor APN yang sudah terlatih. Setelah bulan Juli 1988 terdapat beberapa kali pelatihan dan juga didukung oleh beberapa negara lain seperti: Amerika Serikat dan Jepang sehingga dalam pelaksanaannya juga terdapat beberapa perbedaan dalam cara mengaplikasikannya yang terbagi dalam cara Amerika dan cara Jepang.

Pada beberapa pelatihan terakhir, juga dilakukan  kerjasama pelatihan dengan US Customs dan Japan Customs. Setelah pelatihan pertama tersebut diatas, ada beberapa pelatihan dilakukan terus menerus sampai akhirnya berjumlah 13 Angkatan pada tahun 2007. Pada setiap kesempatan pelatihan selalu berkaitan erat dengan pengadaan anjing pelacaknya. APN tersebut masih harus dilakukan pencarian dan pembelian APN dibeberapa daerah bahkan sampai ke luar negeri seperti : Amerika, Eropa maupun Australia.

 

Fungsi Anjing Pelacak DJBC

Untuk mendukung fungsi sebagai Community Protector terkait narkotika dan psikotropika, DJBC memiliki Unit khusus yaitu Unit Anjing Pelacak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ( K-9 ) yang telah berdiri sejak tahun 1981.Anjing Pelacak DJBC (K-9)adalah salah satu alat pengawasan yang cukup efektif dalam mendeteksi narkotika dan psikotropika. Indera penciuman yang tajam dan sifatnya yang dinamis memungkinkan K-9 dapat dimobilisasi ke berbagai situasi dan kondisi. Seekor anjing pelacak narkotika dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan narkotika/psikotropika pada barang, badan orang, sarana pengangkut, bagian bangunan yang ada dalam dan luar ruangan.

Unit Anjing Pelacak DJBC (Unit K-9) merupakan salah satu unit yang berfungsi untuk mendukung DJBC dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di bidang pengawasan lalu lintas masuknya orang (penumpang) dan/atau barang dari luar negeri ke dalam wilayah Republik Indonesia. Saat ini skema penempatan Unit K-9 ini dilaksanakan berdasarkan tingginya frekuensi lalu lintas penerbangan dan/atau pelayaran pada suatu daerah baik itu bandar  udara maupun pelabuhan fery penumpang.

Anjing pelacak memiliki kemampuan pelacakan untuk menemukan narkotika dengan cara mencari bau narkotika tersebut. Adapun keunggulan penggunaan anjing pelacak dibandingkan dengan alat deteksi narkotika berbasis mesin yaitu:

Anjing pelacak tidak membutuhkan tenaga listrik, yang pada umumnya pasti dibutuhkan setiap alat pendeteksi narkotika berbasis mesin dalam pengoperasiannya;

  1. Anjing pelacak sangat dinamis artinya sangat mudah untuk dimobilisasi dalam berbagai situasi dan kondisi objek pelacakan, dimana tidak semua alat deteksi narkotika berbasis mesin dimobilisasi dengan mudah;
  2. Anjing pelacak tidak membutuhkan consumable aid, yaitu bahan habis pakai yang digunakan untuk mengoperasikan alat deteksi narkotika, dimana setiap alat deteksi narkotika lain pasti membutuhkan consumable aid ini.
  3. Alat deteksi berbasis mesin memiliki kemungkinan mengalami kerusakan dan error yang sangat tinggi akibat kontaminasi, kotornya media atau objek yang dideteksi, kesalahan prosedur penggunaan, serta adanya human error yang disebabkan satu alat deteksi narkotika berbasis mesin bisa dioperasikan oleh lebih dari satu operator.
  4. Pengembangan Anjing Pelacak DJBC untuk mendeteksi barang-barang larangan dan pembatasan selain Narkotika seperti mata uang, tembakau, CITES bahan peledak maupun senjata api sangat dimungkinkan dan akan sangat mendukung tugas pokok dan fungsi DJBC di bidang pengawasan.Pentagon menghabiskan dana USD 19.000.000 (sembilan belas juta US dollar) untuk mencari alat pendeteksi bahan peledak yang paling efektif, dan mereka menemukan tidak ada alat pendeteksi yang lebih efektif daripada penciuman Anjing Pelacak.

 

Penempatan Unit Anjing Pelacak DJBC

 

Tabel Sebaran Instruktur, Asisten Instruktur, Dog Handler dan Anjing Pelacak DJBC di Indonesia

 

No

Unit K-9

JumlahK-9

Jumlah Instruktur/Asisten Instruktur/Dog Handler

1

Kantor Pusat DJBC

Direktorat Penindakan dan Penyidikan

17 ekor

4 Instruktur

10 DogHandler

2

Kanwil DJBC  Sumatera Utara

6 ekor

4 DogHandler

3

KPU Batam

4 ekor

1 Asisten Instruktur

4 DogHandler

4

Kanwil DJBC Jatim I

6 ekor

1 Asisten Instruktur

4 DogHandler

5

Kanwil DJBC Bali, NTB dan NTT

6 ekor

5 DogHandler

6

Kanwil Jawa Tengah dan Di Yogyakarta

6 ekor

6 DogHandler

7

Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur

3 ekor

3 DogHandler

8

Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat

6 ekor

6 DogHandler

9

Kanwil DJBC Jawa Barat

2 ekor

2 DogHandler

10

Kanwil DJBC Riau

Belum di isi

Belum di isi

 

Jumlah

56    ekor

4 Instruktur

2 Asisten Instruktur

44 Handler